Minggu, 08 Maret 2009

Sikap Menghormati Para Leluhur

Kematian bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Kematian tidak juga dianggap habisnya proses kehidupan. Sesungguhnya kematian merupakan proses lain yang menjadi rahasia pencipta. Antara yang mati dan yang bernyawa masih memiliki keterikatan. Saling berkait. Dan tidak terpisahkan.

Sejarah Ceng Beng (Sembahyang Kuburan)

Pada mulanya, tradisi Ceng Beng dicetuskan oleh Putra Mahkota Chong Er dari Dinasti Tang. Suatu hari karena difitnah oleh salah seorang selir Raja, Chong Er terpaksa melarikan diri ke gunung bersama pada pengawalnya. Kelaparan karena tidak membawa bekal makanan, salah seorang pengawal bernama Jie Zhi tui memotong bagian badannya dan memasaknya untuk Sang Putra Mahkota agar tidak mati kelaparan.
Mengetahui pengorbanan pengawal setianya itu, Chonr Er merasa sedih, tetapi Jie Zhi Tui menghibur Sang Putra Mahkota dan memintanya agar tetap teguh bertahan hingga Chong Er dapat kembali ke Istana dan merebut Tahta dari Selir Raja yang telah memfitnahnya.
Tiga tahun lamanya mereka bertahan hidup dalam kelaparan di gunung hingga akhirnya Sang Selir meninggal dunia. Sepasukan tentara menjemput Chong Er untuk kembali ke Istana, saat itu dia melihat Jie Zhi Tui mengemasi sebuah tikar tua keatas kuda. Chong Er mentertawakannya dan meminta Jie untuk membuang tikar itu, tetapi Jie Zhi Tui menolaknya dan berkata, hanya penderitaan yang dapat hamba bagi bersama Paduka, bukan kemakmuran. Jie Zhi Tui berpamitan kepada Chong Er untuk tetap tinggal di gunung bersama ibunya.
Setelah Chong Er kembali ke Istana, dia bermaksud mengundang Jie Zhi Tui, tetapi Jie Zhi Tui tidak berhasil ditemukan lagi di gunung, sehingga Chong Er memerintahkan tentara untuk membakar hutan di gunung itu agar Jie Zhi Tui segera keluar untuk menemuinya, akhirnya yang mereka temukan adalah mayat Jie Zhi Tui bersama ibunya di bawah pohon Willow mati karena asap kebakaran.
Chong Er sangat sedih melihat pengawal setianya itu malah mati karena keinginannya. Sejak saat itu Chong Er memperingati hari itu sebagai hari Hanshi. Pada saat peringatan Hanshi ini, Kaisar tidak mengizinkan siapapun menyalakan api untuk memasak, sehingga peringatan ini juga dikenal dengan sebutan Perayaan Makanan Dingin.
Sedangkan tradisi peringatan Ceng Beng sendiri sebenarnya dicetuskan oleh Kaisar Xuan Zong dari Dinasti Tang pada tahun 732. Kaisar saat itu menilai kebiasaan masyarakatnya terlalu sering melaksanakan upacara bagi pada leluhur dan berbiaya mahal sehingga seringkali menyusahkan mereka sendiri. Kaisar memerintahkan sejat saat itu upacara bagi para leluhur cukup dilakukan pada pertengahan musim semi atau Ceng Beng saja.
300 tahun yang lalu pada masa pemerintahan Dinasti Qing (1644-1911), tradisi peringatan Hanshi digabungkan dengan upacara Qing Ming (Cheng Beng), lama kelamaan peringatan Hanshi mulai memudar dan tinggal tradisi Ceng Beng yang bertahan hingga sekarang sebagai salah satu upacara penting bagi masyarakat Tiong Hoa diseluruh Dunia.
Di beberapa Negara di Asia, peringatan Ceng Beng dianggap sangat penting artinya dan diperingati sebagai hari libur nasional selama beberapa hari. Selain perayaan tahun baru Imlek, Ceng Beng adalah tradisi penting bagi masyarakat Tiong Hoa, karena pada masa inilah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama menghormati dan memperingati leluhur mereka.